Day 6 Sendirian

Pagi-pagi kami bangun untuk mandi, sholat dan siap-siap, setelah sholat, mandi dan sarapan kami pamit dan langsung menuju homestay bu gun untuk naik angkudes (angkutan kaya angkot) ke pantai depok dan pabrik mie letek.

Pantai depok

saat sampai ke pantai depok kami diberi 3 pilihan penangkapan, pengolahan dan pelelangan, kelompok saya memilih pelelangan karena menurut Yudhis itu yang paling gampang, karena saat itu pelelangan belum dimulai jadi kami lihat-lihat ke pasar dulu, saat pelelangan dimulai yudhis mulai mewawancarai pelelang yang ada disitu, setelah wawancara kami bilang terima kasih, dan naik angkudes lagi ke pabrik mie letek.

Gak makan lagi

sebelum menuju ke pabrik mie letek kami makan dulu di rumah makan yang menyediakan mie letek, saat disana saya tidak ikut makan karena saya belum tahu bumbu-bumbunya jadi saya memilih untuk beli nasi putis saja, karena saya selalu membawa abon.

Pabrik mie letek

saat kami sampai ke pabrik mie letek kami disuruh memberikan perwakilan dari satu kelompok untuk topik yang berbeda-beda ada proses, alat yang digunakan dan sejarah, saya memilih untuk mengambil yang proses, bersama Adinda dan Zaky, bahan-bahannya ternyata tidak terlalu rumit, hanya 3 bahan Tepung terigu, Tepung singkong dan  gaplek ketela, memang  bahannya tidak terlalu banyak, tapi prosesnya yang rumit,

pertama  proses penggilingan yang masih memakai sapi lalu adonan dimasukkan ke oven lalu dipres menjadi mie, setelah itu seluruh mie dijemur semalaman, setelah itu paginya mie letek di remdam didalam air selama 1 jam, setelah itu mie letek dijemur lagi selama 1 hari kalau cuaca buruk bisa 2-3 hari, setelah dijemur mie letek itu siap dibungkus.

Sendirian

habis dari pabrik mie letek kami balik ke dusun ngiringinan dan pulang ke homestay masing-masing untuk mandi dan siap-siap ke gereja kecuali saya, jadi ceritanya acara eksplorasi ini bertepatan dengan hari waktu yang katolik misa jadi semuanya kecuali saya mengantar yang katolik misa.

meretelin jagung sampe diajak nonton bola

jadi untuk menunggu yang lain mengantar misa, saya meretelin jagung aja, sampe diajak nonton bola didalam, saat yang nganter misa dateng (yang misa belum selesai), jadi kami semua, nonton bola sambil menunggu yang katolik misa.

Tempe

Setelah yang misa datang kami semua datang ke tempat bu cicil untuk belajar tempe disana kami belajar, ternyata tempe bisa dibuat dari banyak biji seperti dari kacang ijo, kedelai hitam, kedelai, dan lain lain.

setelah belajar tempe kami semua pulang ke homestay masing masing dan tidur

bersambung

Day 5 Pindahan, Gratisan dan Perdebatan

Pindah tempat

dsc_0288
Foto dengan tuan rumah Pak Mufit dan Bu Izty SOURECE;JALADWARA

Saya bangun dan langsung sholat, setelah sholat saya packing lagi barang-barang saya dan mengeluarkan hadiah saya untuk tuan rumah, kami janjian untuk ngumpul jam 7:30 di homestay gatotkoco, jadi saya minta kak Inu untuk datang dan fotoin.

Lamaaa

yang tidak enaknya dari homestay ini adalah masaknya lama, seperti sekarang yang ternyata makanannya baru dimasak saat jam 7:30, jadinya saya harus makan cepat-cepat, jadi lupa makan tempe kacang ijo yang saya minta gorengin kemarin.

Jalan

Setelah sarapan dan pamit kami langsung jalan ke homestay gatotkoco dan naik andong menuju terminal untuk naik bus ke terminal jombor, Yudhis memberitahu untuk tidak mengeluarkan dompet, hanya uang pas 15.000, karena waktu terakhir kami kami naik bus dari terminal jombor kami dimintai 20.000 karena ada yang mengeluarkan dompet.

ILLEGAL

saat sampai di terminal jombor kami langsung masuk ke halte transjogja  untuk naik bis arah SMA 7 Yogyakarta  saat saya duduk, bapak-bapak disamping saya bertanya:

Bapak HS illegal: Dari mana dek

Saya: Jakarta pak

Bapak HS illegal: sekolah dimana?

Saya: homeschooling pak

Setelah ngobrol beberapa menit

Bapak HS illegal: Kalo saya jadi presiden saya bakal buat HS jadi illegal

Saya: emang kenapa pak?

Bapak HS illegal: karena homescooling itu gak ikut kegiatan sekolah sama sekali dan hanya ikut ujian di akhir, kalo gak suka ama metode sekolah, kenapa pada akhirnya balik lagi ke sekolah itu untuk mendapatkan ijazah

Saya: ya kami terpaksa pak

Bapak itu juga sempat bilang kalau anak HS gak punya teman, saya paling senang kalau ada yang bilang kaya begini, karena dilawannya gampang

Saya lupa bapak itu bilang apa tapi intinya dia bilang bahwa anak HS gak punya temen, jadi saya jawab

Saya: Sebetulnya menurut saya yang gak punya teman itu anak sekolah, karena teman mereka hanya yang ada di sekolah

Bapak HS illegal: kan sekolah ada liburnya, waktu liburan kan bisa nyari teman

Saya: lah anak HS kan setiap hari libur terus pak.

bapak itu langsung ganti topik tapi masih topik mengenai HS, saat itu kami sudah sampai ke halte tujuan, jadi kami semua turun.

Saat aku melihat Yudis mukanya udah kusut karena kesal gak bisa ikut debat, sayangnya saya duduknya di bangku paling belakang dan yang lain agak jauh jaraknya dari saya.

Ngiringinan

setelah naik transjogja kami naik bus lagi ke tujuan selo lor, kenek bilang kami akan sampai dalam waktu 1 jam, saat sampai ada 2 nenek-nenek yang mengarah ke tempat yang kami tuju, jadi Yudhis bertanya tempat berkumpul kami, rumahnya bu cicil.

Titik kritis

saat sepeda datang kami semua pergi untuk mencari makan, kami semua memutuskan untuk makan di mie ayam yang kami lewati waktu lagi jalan menuju rumah bu cicil, saya sebetulnya tidak setuju dengan makan disitu, tapi disana tidak ada pilihan lain, saya tidak mau makan disana karena mie ayam mempunya sangat banyak titik kritis halal, seperti apakah ayamnya disembelih dengan benar, mie nya darimana dan yang paling sering, apakah penjual itu memakai angciu.

Gratis

karena mie ayam mempunyai terlalu banyak titik kritis jadi saya memutuskan untuk beli putih saja, karena saya bawa lauk abon, saat saya bilang mau beli nasi putih ibu penjual itu bilang “kalo nasi putih sebetulnya gak jual tapi gapapa nanti saya ambilin” saat ngasih nasi putih itu ibu itu juga bilang, nasi putih itu gratis karena sebetulnya ibu itu gak jual nasi, dan mungkin ibu itu kasihan ama anak kecil yang temen-temennya makan mie ayam dan dia gak 😛 , karena ngerasa gak enak dikasih gratisan, jadi saya juga beli es teh manis 2.

Nyari homestay

setelah makan kami semua berpencar untuk mencari homestay masing-masing, saya dan Zaky awalnya menempati homestay budhe Aan tapi kemudian ada perubahan rencana, jadinya kami menempati homestay bu Lastri, saat sedang bertanya kami bertemu Adinda dan Yla, yang sedang jalan-jalan, jadi mereka iseng ikut dengan kami, setelah bertanya beberapa kali akhirnya kami menemukan homestay yang kami cari, saat sampai di homestay kami mengucapkan kulo nuwun dan masuk kedalam, homestay yang kami tempati lumayan enak, kamar mandinya ada 2, jadi gak harus gantian waktu mau mandi, kamarnya ada kipas angin atapnya, ada colokan buat ngecas dan yang paling penting, rumah itu dekat dengan masjid, kekurangan rumah itu hanya satu, homestay kami itu homestay yang paling jauh dengan basecamp kakak-kakak fasilitator.

Jagung

setelah menaruh barang kami ber 4, sempat ngobrol dulu selama kira-kira 20 menit, kami semua pamit untuk menuju rumah bu gun, tempat yang jadi homestaynya kakak-kakak fasilitator dan yang perempuan, saat kami sampai di di homestay bu gun, saya melihat ada banyak jagung hibrida, jagung jenis itu gunanya untuk dijual dan dijadikan pakan ayam, tapi sebelum bisa dijual jagung itu haru dicabuti dulu biji bijinya, dan bonggol jagunya dibuat jadi tambahan kayu bakar, saya dulu pernah mencabuti bulir jagung ini juga saat di kebumen, jadi saya sudah lumayan terbiasa, karena masih menunggu yang lain saya minta izin ke yang punya rumah untuk meretelin bij jagung, dan saya dibolehkan.

img_20161216_162054_hdr

Diskusi

saat semuanya sudah berkumpul kami semua membuat logbook dan ngobrol tentang perbedaan maitan dan ngiringinan, yang mana yang lebih enak, kalau menurut saya ngirnginan lebih enak dusunnya karena jalannya sudah aspal dan reaksi orang saat mendengar kami berbicara dengan bahasa jawa sangat ramah.

saat diskusi kami diberi pilihan, mau meneruskan ngobrol disini, atau mau jalan-jalan naik sepeda (free time) kami semua memilih untuk main sepeda.

 

Hilang

saat free time kami memutuskan untuk menuju tempat dimana warga sekitar sedang melatih burung mereka untuk lomba, waktu saya ingin merekam saya lihat space video di kamera saya bertambah, seperti baru lagi, saat saya mau lihat video sebelumnya, video itu tidak ada, semuanya hilang, saat saya cek, apakah itu memory card yang sama, mungkin saya sudah mengganti memory card dan tidak ingat, itulah harapan saya, tapi ternyata tidak itu memory card yang sama dengan yang saya pakai saat di maitan, jadi prediksi saya memory card itu terformat saat kamera itu ada di kantong celana.

Main werwolf sama kakak-kakak

setelah sepedaan kami balik ke homestay masing-masing untuk mandi beres-beres dan sholat, setelah sholat kami datang lagi ke homestay bu gun untuk diskusi dan untuk mengerjakan logbook, saat semua sudah mau selesai, tiba-tiba mati listrik, karena suasananya pas jadi kami semua main werwolf, setelah beberapa ronde kakak-kakak fasilitator juga tertarik untuk ikut, jadi saat itu semua main.

Kejutan

setelah main kakak-kakak fasilitator mempunyai kejutan untuk kami, kelompok kami diacak lagi menjadi

Andro Ceca Yudhis

Fattah Kaysan Zaky

Adinda Donna Yla

setelah itu semuanya pulang ke homestay masing-masing dan tidur.

Bersambung

Day 4 Hari terakhir di maitan

Day 4 Hari terakhir di maitan

Setelah sholat mandi sarapan dan menyiapkan barang bawaan, seperti biasa kami jalan ke homestay gatotkoco untuk diskusi sebelum jalan ke pasar, setelah kira-kira 30 menit diskusi, kami langsung sepedaan ke pasar, untuk eksplorasi pasar dan untuk mencari andong yang bisa ditelpon untuk perjalanan besok. saat sampai disana kami mengunci sepeda, dengan kunci yang diberikan oleh kakak-kakak Jaladwara 1 kelompok mendapat 2 kunci.

dipasar kami semua berpencar, karena kepasar ini memang dibuat untuk project pribadi, dipasar saya tidak mendapat terlalu banyak, data yang saya dapatkan hanya: disana sepertinya tidak ada penjual kedelai lokal, tapi saya menemukan hal lain yang menarik, saya menemukan tempe yang terbuat dari kacang ijo, saya berencana untuk minta gorengin ke tuan rumah.

Rumah ketela

habis dari pasar kami ke rumah ketela, disana Kami bertemu dengan Ibu Nida Sutomo & Bapak Aris Suwara Sutomo, pemilik ruma ketela, rumah ketela didirikan untuk mengembangkan kesadaran akan pangan lokal seperti umbi-umbian yang sangat melimpah di Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran akan bahayanya gluten, salah satu contohnya gluten bisa merangsang stress, kelebihan umbi-umbian yang lain adalah umbi-umbian bisa ditanam di kondisi iklim apapun, karena tumbuhnya dibawah tanah.

karena kurangnya kesadaran akan umbi-umbian di Indonesia, negara-negara lain secara sembunyi-sembunyi mengekspor umbi-umbi itu ke negara mereka untuk diproses dengan mesin yang lebih canggih untuk dijadikan diet food dan baby food, yang lalu akan dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi.

contoh “penjajahan” lain yang diberikan oleh pak Aris adalah, penjajahan dari televisi, yang terus mempromosikan produk seperti Qte1a, yang sebetulnya sama dengan crippin tradisional, hanya saja Qte1a ada di televisi, jadinya kebanyakan orang akan berpikir yang ada di tv itu lebih bagus daripada yang tidak mempunyai brand.

Eggroll

setelah mendengar penjelasan dari pak Aris kami pindah ke dapur eggroll saat itu saya tahu pasti akan ditawari eggroll jadi saya tanya-tanya dulu bahan-bahannya, melihat apakah ada titik kritis atau aman, dan dari analisa saya menurut saya ini halal jadi saya makan juga

Halal

DSC_0262
Waktu dikasih liat surat-surat rumah ketela SOURECE:JALADWARA

saat saya akan membeli eggroll saya melihat logo halam MUI, tapi hanya sticker yang ditempel ke kaca, jadi saya iseng nanya, “boleh liat sertifikat halalnya gak”, saya bilang ke kasir, lalu dia bilang, “sebentar saya ambilin” setelah itu agak lama tidak ada respon, saya sudah curiga logo halal itu cuma stiker, dan saya akan mendapat respon seperti, maaf dek gak ketemu sertifikatnya, tapi hasilnya membuat saya sedikit terkejut, ternyata saya beneran dikasih liat sertifikat halalnya, sebetulnya dari awal saya sudah tahu makanan itu halal, karena saya sudah lihat ke dapurnya dan bahan-bahannya semua halal.

DSC_0266
SOURECE:JALADWARA

Tahu

Tugas kami selanjutnya setelah dari rumah ketela adalah untuk wawancara industry tahu dan jetkolet, kakak-kakak fasilitator juga menyarankan untuk makan dulu, tapi karena kami merasa masih kenyang, jadi kami tidak berhenti dulu untuk makan, jadi kami langsung menuju industry tahu, karena bingung tempatnya dimana jadi kami beberapa kali nanya, sampai akhirnya, ketemu juga industry tahunya, yang beda dengan industry tahu yang saya pernah kunjungi sebelumnya industry tahu ini juga menjual tahu yang sudah digoreng terlebih dahulu.

Salah tempat -_-

setelah dari tahu kami mampir dulu ke homestay gatotkoco untuk menitipkan makanan yang kami beli, setelah itu saya dan zaky sholat, saat selesai sholat kami mendapat telpon dari kak kukuh

Kak Kukuh: Kalian dari mana aja

Ceca: dari industry tahu kak

Kak Kukuh: industry tahu dimana

Ceca: yang di dusun kretek

setelah itu kak Kukuh ketawa.

Ternyata kami salah dusun, memang di dekat situ ada 2 industry tahu, tapi sepertinya yang kami datangi itu yang jauhnya.

Jetkolet

setelah sholat kami jalan lagi untuk menuju industry jetkolet, saat sudah sampai, Zaky sedikit salah paham, kami mendapat sms dari kakak-kakak fasilitator untuk mengabari kalau kami sudah sampai ke tempat jetkolet, Zaky kira kami harus mengabari lalu menunggu kakak fasilitator datang, tapi menurut saya kami harusnya langsung masuk aja, jadi kami menunggu dulu lumayan lama, sampai akhirnya saya megajak Donna dan Zaky untuk masuk aja, jadi kami masuk dan mulai wawancara tidak lama kemudian kak kukuh datang.

saat disana saya dan Donna mewawancarai pemilik industri jetkolet sedangkan Zaky mewawancarai pegawai yang sedang menghaluskan singkong, disana ada 3 mesin 3 memakai listrik dan 1 memakai bensin sebagai bahan bakar, mesin yang memakai bahan bakar bensin dipakai untuk menghaluskan singkong, tapi sebelum singkong itu bisa dihaluskan, sinhkong harus dikukus dulu sampai jadi lembek, baru setelah itu bisa dihaluskan dan dibuat menajadi getuk (bentuknya seperti adonan).

IMG_20161215_140045
singkong yang dihaluskan menjadi getuk SOURCE;JALADWARA

Setelah dibentuk adonan itu dimasukkan kedalam freezer selama 8 jam, gunanya ditaruh di freezer dulu adalah supaya adonan itu jadi keras dan bisa di potong.

untuk mesin potong disana ada 2 dua-duanya menggunakan tenaga listrik, bedanya ada di pisaunya, ada pisau yang bergelombang untuk kripik singkong, ada juga yang mulus untuk memotong adonan jetkolet, setelah dipotong adonan itu digoreng lalu dibungkus, mesin listrik yang ketiga berbentuk seperti molen. mesin ini berguna untuk mencampur bubuk cabai, karena disana ada pilihan pedas atau original.

Main sepeda

setelah dari jetkolet kami pulang ke homestay gatotkoco untuk bercerita pengalaman kami, setelah ngobrol tentang pengalaman kami, kami disuruh untuk eksplor dusun maitan dan “make someone lees stranger”, jadi kami haru memngenal seseorang lebih dalam, seperti, dimana rumahnya, dimana sekolahnya, siapa namanya dan seterusnya, karena bingung mau ngapain aku main sepeda aja sendiri, sampai ketemu Fattah yang juga sedang main sepeda, jadi kami main sepeda bareng, karena memang jalanannya sangat enak untuk main sepeda, karena banyak turunan.

Candi mendut

setelah main sepeda malamnya kami menuju candi mendut untuk melihat para biksu yang sedang berdoa, tapi sayangnya di perjalanan ada lumayan banyak hambatan, seperti pedal sepeda Zaky yang lepas terus dan celana Yudhis yang robek.

saat kami sudah sampai ke candi mendut ternyata, para biksu sedang tidak berdoa, karena akan ada persiapan untuk acara, jadi kami hanya melihat-lihat saja.

Patung

saat kami melihat-lihat, ada patung yang sangat besar dan ada pelataran berlantaikan batu di depan patung itu, did itu juga ada batas suci, jadi kalau mau lebih dekat dengan patung itu kami harus buka sendal, jadi saya dan yang lain buka sendal dan melangkah lebih dekat ke patung itu,

Ternyata tempat itu untuk dipakai untuk meditasi menghadap patung, jadi pada saat yang lain meditasi hanya saya dan Kaysan yang tidak ikut.

Pulang dari candi

Setelah dari candi mendut kami ngobrol sebentar di homestay gatotkoco, setelah itu kami semua pulang ke homestay masing-masing, kecuali Yudhis dan Fattah yang sebelumnya sudah dikasih kunci oleh tuan rumah, yang katanya lagi mau pergi ke acara yang ada di masjid, karena kuncinya gak tahu kemana, jadi yudhis tidurnya di homestay gatotkoco.

Kecapean

karena habis sepedaan lumayan jauh saya jadi sangat kecapean waktu sampai di homestay, tapi masalahnya saya harus packing baju dulu sebelum tidur, jadi saya packing baju dan rencananya ingin merapikan hal lain juga, tapi kerena kecapean saya akhirnya memutuskan untuk packing sisanya besok

Bersambung

Day 3 SEPEDA!!!

Gak mau telat

karena gak mau telat lagi aku dibangunkan oleh zaky sebelum adzan subuh, zaky ternyata sudah bulak-balik ke kamarmandi dari jam 4. Setelah saya dan zaky sholat subuh kami menyiapkan pertanyaan untuk wawancara pak muhajir (Pembuat gula nira), pertanyaannya seperti: sudah berapa lama jadi pembuat gula nira, bisa gagal gak, berapa lama prosesnya Dll

Kepagian

Setelah menyiapkan pertanyaan kami ngobrol sebentar dengan bu izty (tuan rumah) untuk menanyakan dimana rumah pak muhajir, ternyata rumahnya tidak terlalu jauh hanya 2 rumah dari Homestay Gatotkoco, setelah ngobrol kami berangkat ke homestay gatotkoco jam 5:48 karena gak mau telat lagi.

setelah semua kelompok berkumpul, kami disuruh jalan bergiliram perkelompok, (sepertinya biar mencari rumah pak muhajirnya perkelompok),kelompok saya rawon ayam disuruh jalan duluan karena kami yang pertama kali datang.

saat sampai didepan rumahnya kami melihat ada kakek-kakek membawa golok dan ember, kami langsung memutuskan kakek itu pak muhajir, untuk membuka pertanyaan zaky mengatakan sugeng enjang Yang artinya selamat pagi, respon pak muhajir sangat ramah, saat itu pak Muhajir sedang menuju pohon kelapa yang ada di dekat rumahnya.

Metode pemanjatan pak muhajir menurut saya sangat hebat karena pak muhajir tidak menggunakan pengaman apapun hanya pijakan yang sudah ada, yang menurut saya lebih hebat lagi pak muhajir belajar memanjat pohon kelapa dari umur 15.

Generasi terakhir

Yang membuat saya kawatir saat wawancara ini pak muhajir adalah generasi terakhir penyadap (pengambil) nira, karena generasi jaman sekarang lebih memilih untuk sekolah/kuliah dan kerja dikota daripada menjadi penyadap nirascreenshot_8

SOURCE:JALADWARA

 

Setelah kami merasa sudah cukup informasi yang kami dapatkan dan tidak ada lagi pertanyaan kami pamit ke pak muhajir “Matur nuwun, pareng pak, mbok.”  Setelah itu kami pulang ke homestay masing-masing untuk sarapan dan mandi

Keteta

Setelah sarapan dan mandi kami pamit dan pergi lagi ke homestay gatotkoco untuk persiapan kegiatan selanjutnya, wawancara home industry makanan yang ada di dusun maitan, saat diskusi kakak-kakak fasilitator memberitahukan bahwa tidak boleh 1 home industry 2 kelompok, jadi kalau home industry itu sedang diwawancarai oleh kelompok lain kami harus menunggu sampai mereka selesai.

Kami memutuskan untuk wawancara home industry cripping (keripik singkong), karena kami sudah mewawancarai peyek dan tempe, karena di Cripping sudah ada kelompok marimas rasa soto, kami memutuskan untuk mewawancarai peyek karena merasa masih ada yang kurang, tapi ternyata di peyek ada kelompok nasi uduk, jadi kami balik lagi ke cripping untuk melihat apakah marimas rasa soto sudah selesai, ternyata mereka memang sudah mau selesai,

Saat wawancara respon ibu Tika dan pak Naim sangat ramah, dari awal kami langsung disuruh memcicipi ceripingnya, menurut saya rasanya enak, tapi bakal lebih enak lagi kalau bumbunya hanya garam.

Ceripping yang dibuat oleh bu Tika semuanya menggunakan bumbu r0yco, bu Tika hanya membuat yang bumbu garang kalau ada pesanan khusus.

DSC_0010
Pemotong singkong manual SOURCE:JALADWARA

Umtuk memotong singkongnya pak mufit mempunyai 2 mesin pemotong yang satu otomatis yang satu lagi manual, yang manual gunanya untuk memtotong singkong yang besar dan tidak muat ke mesin otomatis.

 

Diwawancara oleh narasumber

Setelah dari cripping kami menuju tempat  peyek, home industry memproduksi 3 macam peyek, peyek bayam, tempe dan kacang, saat kami datang kami rencananya mau wawancara, tapi malah kami yang ditanya-tanya, dengan pertanyaan seperti kenapa dateng lagi, mau beli apa aja, mau pulang ya, jadinya kami jawab, iya kita mau beli karena besok pulang, setelah itu kami melakukan wawancara sebentar, saat itu suaminya bu Dispriyati belum datang.

saat suaminya bu Dispriyati datang ia bertanya kami kelas berapa, kami bilang kita Homescooling, sekolah dirumah, bapak itu kira Homescooling ada lembaganya, jadi saya jelaskan, Homescooling itu gak ada lembaganya pak yang ngajar orangtua, yang ada hanya klubnya, gak tahu kenapa bapak itu malah menyimpulkan klub Homescooling itu seperti lembaga pusat, untuk mengarahkan orang lain ke cabangnya untuk belajar, setelah beberapa kali saya jelaskan, sepertinya bapak itu akhirnya mengerti.

 

Menghancurkan kebun pak Naim

setelah wawncara industri rumahan di maitan, kami disuruh berkumpul di tempat cripping untuk jalan ke kebun singkong milik pak Naim

DSC_0090
SOURCE:JALADWARA
DSC_0149
CREDIT:JALADWARA

Saat disana pak Naim memberikan contoh cara mencabut pohon singkong, saat pak naim melakukannya keliatannya gampang banget, tapi waktu saya coba susah banget nyabutnya, saking susahnya kami kira pak Naim lagi ngerjain kita, jadi kami minta contoh 1 lagi, kami yang memilih pohonnya, tapi tetap saja kelihatannya enteng aja nyabutnya, ternyata kenapa kami dari tadi tidak bisa nyabut singkongnya karena kaki kami menginjak singkongnya, jadi caranya kami haru melebarkan kakiSetelah mengerti caranya kami semu langsung bisa dengan gampang mencabut singkong.

 

SEPEDA!!!

IF
Pemanasan sebelum bersepeda ke borobudur SOURECE:JALADWARA

Saat sedang sepedaan kami bersepeda lumayan cepat, karena jalanannya sedang kosong, saat mau menuju jalan raya ada belokan, disaat itulah kami baru sadar Yudhis,Zaky dan Andro tidak ada dibelakang, karena lumayan lama menunggu dan tidak ada kabar dari mereka saya jalan kebelakang untuk melihat, ternyata rantai sepeda Yudhis bermasalah, katanya rantainya bermasalah,

entah kenapa tiba-tiba masalahnya kelar dalam waktu 25-35 menit, kata Yudhis “Wuohohhh,  ternyata cuman ganti gigi lagi!” dan tanganku udah blepotan dengan oli rantai sepeda -_-.

-Zaky

setelah masalah itu selesai, kami masih harus ke tempat pompa sepeda, karena kebanyakan sepeda kami kempes, setelah pompa sepeda, kami meneruskan perjalanan, saat sampai kami melihat banyak sekali orang, jadi kami diberi pilihan, mau tetep ke borobudur atau jalan-jalan aja, karena sangat ramai kami memilih untuk jalan-jalan saja.

 

Foto

saat jalan-jalan kami menemukan spot yang bagus untuk foto, jadi kami berhenti dulu untuk foto-foto, ada yang posenya biasa, agak aneh, sampe yang aneh banget

IF
Masih normal SOURCE:JALADWARA

 

IF
Udah agak aneh SOURCE:JALADWARA
cecaeks
Ini udah gak waras :v SOURCE:YUDHISG.S

Diusir

Saat pulang kami sempat nyasar, karena kami ternyata melewatkan 1 belokan, saat sudah lumayan jauh jalan, kami merasa jalannya salah, saat ada belokan kaysan bilang “kayaknya belokannya ini deh” jadi kami semua belok, tapi ternyata jalan itu adalah jalan masuk ke hotel, jadi waktu kami masuk kami langsung diusir oleh security.

 

Nyangkul

saat menemukan belokan yang seharusnya kami melihat ada ibu-ibu yang sedang nyangkul sawah menggunakan cangkul kecil, tertarik kami jadi nanya-nanya ke ibu itu namanya Ibu Marsinah, ibu itu sedang mencangkuli sawahnya biar bebas dari tanaman liar

IMG_20161214_162858_HDR
SOURECE:JALADWARA

Setelah itu kami balik ke homestay gatotkoco untuk diskusi minat pribadi sampai jam 22:00, setelah itu kami semua pulang ke Homestay masing-masing dan tidur.

Bersambung

 

Day 2 Perjalanan Dimulai

 

Sampai ke Stasiun Lempuyangan

saat sampai di stasiun lempuyangan kami mendapat sms dari kakak-kakak fasilitator

  Yahuuu selamat datang di jogja! 😀 Saat turun di St. Lempuyangan, disarankan umtuk ke toilet dulu. Silahkan cuci muka, sikat gigi dan buang hajat, sebelum keluar stasiun. Nanti keluarlah dari PINTU TIMUR. Kami kakak-kakak fasilitator menunggu di ruang tunggu di luar stasiun

Setelah ke toilet kami siap-siap untuk mencari pintu timur (karena ternyata kami turunnya di pintu barat) saat mencari pintu timur kami kebetulan bertemu Andro (peserta OaseEksplorasi yang tidak ikut kereta karena rumahnya di jogja).

 

Bertemu kakak-kakak fasilitator

Setelah bertemu dengan andro di pintu barat kami berjalan menuju pintu timur untuk bertemu kakak-kakak fasilitator, disana kami diberikan buku saku OaseEksplorasi yang berisi jadwal kegiatan, denah sekitar,nama Homestay yang akan ditinggali, cara menuju kesana, dan sapaan lokal seperti nuwun sewu (kalau bertemu dengan orangtua dijalan), kami dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan voting yang menurut kami paling seimbang, kelompok itu terdiri dari:

Nasi uduk: Fattah,Yla,Yudhis

Marimas rasa soto: Adinda,Andro,Kaysan

Rawon ayam: Ceca,Donna,Zaky

 

Makan dulu sebelum jalan

Setelah diberitahukan harus kemana kami memutuskan untuk makan dulu karena disekitar stasiun ada banyak tempat makan pinggir jalan, kami bergiliran jaga tas perkelompok, kelompok rawon ayam yang jaga tas duluan Karena kelompok kami kalah gambreng,

Mie pake es batu

saat giliran kelompok kami untuk makan kami memutuskan untuk makan ind0mie Donna dan Zaky memilih untuk makan ind0mie goreng sedangkan saya memilih ind0mie rebus, awalnya saya kira mie itu akan cepat jadi, tapi ternyata 10 menit kemudian mie itu baru datang, karena waktu kami terbatas kami hanya mempunyai waktu 15-20 menit untuk makan, karena tinggal 5 menit lagi kami cepat-cepat makan, karena saya takut jadi lama saya minta mie rebus saya dikasih es batu, saat saya minta mie rebus saya dikasih es batu ke penjual dia tidak terlalu kaget (mungkin pernah ada juga yang minta mie nya dikasih es batu :v) saya mintanya untuk dikasih es batu sedikit aja, tapi mungkin dia gak denger karena dia memberikan banyak sekali es batu di mie saya (jadi kaya es buah) awalnya saya khawatir es itu akan membuat mie saya jadi tidak enak, tapi ternyata pas, saya jadi bisa langsung makan

 

Perjalanan ke Dusun maitan

Setelah makan kami jalan kaki ke halte transjogja yang ada di sma 5, sebetulnya kami disuruh naik becak, tapi karena kami mau ngirit dan sedikit olahraga kami jalan kaki. kami naik bus 2A sampai ke terminal jombor di terminal jombor kami naik bus lagi sampai ke terminal Borobudur disana kami makan siang dulu, karena bingung memilih makanan apa saya memilih untuk makan telor asin aja setelah makan saya dan yang muslim sholat di musholla yang ada di dekat tempat saya makan,

Nawar andong

setelah makan Yudhis dan Kaysan mencari andong untuk menuju ke dusun maitan, awalnya kami diberikan harga yang tidak masuk akal, 100 ribu untuk 1 andong mungkin karena mereka kira kami tidak tahu harga, setelah yudhis dan kaysan tawar menawar kami mendapat harga 40 ribu per andong (kami menyewa 2 karena 1 andong hanya muat 5 orang).

 

Sampai ke dusun Maitan

Saat sampai disana dan menemukan Homestay masing-masing kami berkumpul di Homestay gatotkoco (tempat kakak-kakak menginap) untuk membahas bagaimana perjalanannya, apa yang dilihat selama perjalanan, bagaimana perasaannya,  setelah Setelah ngobrol kami disuruh eksplorasi tempat itu,

 

Wawancara home industry tempe

Hari pertama disana kami masih bingung dimana lokasi home industry sekitar, karena itu kami sempat jalan-jalan keliling desa, karena bingung harus mencari dimana kami bertanya  ke kakek yang sedang lewat, saat itu zaky yang bertanya, karena zaky logatnya di medok-medoking (menurut saya terlalu berlebihan) kakek yang zaky tanyai kelihatannya sudah agak pikun karena bingung saat ditanyai dimana home industry sekitar setelah bertanya ada seorang anak kecil yang bilang ke zaky “Sok boso jowo” dan zaky bilang “masih belajar kok” sejak itu saya memperhatikan logatnya zaky jadi tidak berlebihan

dsc_0038
Sedang mencari home industry

 

 

 

 

 

 

 

Main bola

setelah akhirnya menemukan home industry tempe dan wawancara kami berkumpul lagi ke homestay gatotkoco, disana kami menihat ada anak-anak kampung situ bermain bola, awalnya hanya beberapa dari kami yang main, tapi akhirnya semuanya kecuali Adinda ikut main

img_20161213_172335

Terlambat

Setelah sholat saya dan zaky ke homestay (dewi sinta) setelah sholat saya langsung tidur karena udah capek banget, jadi karena aku kami jadi terlambat 40 menit.

Setelah diskusi tentang bagaimana perassannya dan tadi mewawancarai apa, setelah diskusi kami semua balik ke homestay dan tidur.

 

 

 

Bersambung