Day 1- Akhirnya berangkat

Kecepetan

Karena takut terlambat, saya berangkat lebih cepat dari seharusnya. Saya pilih naik ojek motor online daripada naik commuterline, walhasil sampainya disana saya bukan disambut oleh teman -teman tapi malah disambut oleh truk-truk yang terparkir rapih. Setelah berkeliling di area dekat meeting point kami, saya bertemu dengan Husayn dan ayahnya om Faisal, tidak lama setelah itu teman-teman yang lain pun mulai bedatangan.

 

Masuk ke kapal

Saat masuk kedalam kapal kami langsung mengklaim kursi kami, karena sebelumnya saya ikut survey jadi saya tahu kursi mana yang enak, yakni kursi yang dipojok, tapi sayangnya kursi itu telah diklaim oleh teman-teman yang lain.

Jalannnn

Setelah briefing dan absen kami menyuruh kapal jalan  kami duduk dan menunggu kapal jalan, saat kapal jalan ada beberapa anak yang keluar ke dek untuk foto-foto,

Kasur

Awalnya semuanya  mau duduk dibangku atas, dan tidak mau duduk dikasur bawah, karena ada kebocoran informasi saat kami survey yang mungkin benar mungkin tidak, info itu adalah: “Kasur dibawah tempatnya bau dan penuh sama orang”

Info itu ada benarnya, karena memang saat kami survey tempat kasur yang dibawah itu memiliki bau yang kurang sedap, bau itu adalah kombinasi dari bau toilet, keringat dan makanan dan juga kasur dibawah itu seperti sedang ada arisan ibu-ibu.

Tapi semua berubah ketika Negara api menyerang ada yang mengecek kebawah, dan ternyata saat itu dibawah tidak terlalu banyak orang dan bau tidak sedapnya tidak terlalu kuat, jadi karena itu kebanyakan dari kami langsung memindahkan tas kebawah.

Wawancara

©Pintrest

Saat kami sedang asik mengobrol, kakak mentor kami yang baik hati memberikan kabar yang sangat menyenangkan, yaitu mengingatkan kami harus mewawancara satu penumpang dikapal itu, dari situ semuanya langsung mencari narasumber masing-masing, saat saya ke dek saya melihat ada seseorang yang sedang memotret pulau yang sedang kami dekati, yang spesial dari orang ini adalah dia menggunakan kamera 1DX dan lensa Canon 70-200 jika tidak ada bayangan kamera apa yang dia gunakan ini adalah foto kamera dan lensanya

Karena ingin tahu juga siapa orang itu, kerja dimana dll, saya memutuskan untuk mewawancarainya, tapi karena dia sedang sibuk memotret saya menunggu dulu sampai dia masuk kedalam kabin, dan saat dia masuk , tau – tau dia tidur, “mungkin dia bakal bangun dan bisa diwawancara saat itu” saya pikir, akhirnya karena saya mengantuk juga, jadi saya tidur dulu. Saya terbangun oleh suara kapten kapal yang mengumumkan bahwa kami sudah sampai ke pulau harapan, karena sudah sampai saya sudah tidak punya harapan, jadi saya akan mewawancarai di pulau harapan. Ahhh selalu ada harpan.

Wah pak gurunya nih

Saat keluar kapal beberapa dari kami ditanyakan mau kemana, tapi saat saya keluar orang yang bertanya itu bergumam oh ini pak gurunya nih, yahh…. sudahlah.

Laparrr

Sebelum kami berkenalan dengan orangtua inang masing-masing, kami makan siang dulu, karena hampir semuanya lapar piring yang berisi nasi itu kosong dengan cepat.

Berkenalan

setelah makan kami brifieng sebentar, lalu berkenalan dengan keluarga inang masing – masing kelompok, saya sekelompok dengan Fattah dan Zaky, bapak inang kami bernama pak Syarifudin, mukanya terlihat seperti orang yang serius, tapi ternyata beliau suka bercanda.

 Sirkus

Setelah mengobrol dengan keluarga inang, kelompok kami dan kelompok lain memutuskan untuk jalan-jalan keliling pulang, saat saya memberitahukan ada jembatan yang terdiri dari hanya dua batang bambu kebanyakan teman-teman tidak ada yang mau kesana, karena saya Adinda, Kaysan, Yudhis dan Zaky sudah survei di pulau ini kamilah yang menjadi penunjuk arah, dan karena kami adalah teman yang baik kami mengarahkan teman-teman kami ke jembatan yang hanya terdiri dari dua batang bambu dan tanpa pegangan.

SAMPAHHH

Setelah dari sana kami berjalan-jalan lagi, dan menemukan sebuah tempat dengan tulisan dilarang membuang sampah disini, tapi…. Lihat saja fotonya deh

Taman Bermain

Dari sana kami jalan menuju taman bermain yang ada didekat pelabuhan, dan semua permainannya sangat cocok untuk kami semuanya untuk anak kecil dan

kebanyakan rusak. Permainan yang bisa kami mainkan hanya satu, yakni dua buah ayunan. Tapi itu tidak menghentikan kami dari bermain, kami berimprofisasi dan membuat mainan rusak seru dimainkan, ada yang manjat tiang, yang ternyata ada semutnya, ada yang gelantungan dan ada yang menonton dengan terhibur.

Tergoda

Karena kami berjalan-jalan cukup lama dibawah mentari yang panas dan membuat haus, karena berjalan cukup lama, persediaan air kami semua habis, karena itu kami tergoda untuk membeli air mineral kemasan di warung, dan akhirnya kami membeli air itu, hal ini sebetulnya cukup dilarang, karena salah satu peraturan kami saat Eksplorasi adalah zero waste.

Jebakannn

Saat selesai jalan-jalan kami kembali kerumah keluarga inang kami, disana Zaky yang pertama kali mandi, saat Zaky selesai mandi makanan sudah siap dan kami disuruh makan dulu, jadi saya dan Fattah hanya cuci muka dulu lalu makan malam.

Pak. S: “kalian tahu gak kalo nelayan disini umpannya apa ?’

Mengatakan ini dengan suara serius

Z: “setahuku biasanya pake cacing, pak”

Zaky dengan serius menjawab

Pak. S: “salah”

Mengatakan sambil sedikit nyengir

Z:”kalau gitu apa pak?”

Dengan penasaran bertanya

Pak. S: “nasi uduk”

Fattah dan terutama Zaky terlihat bingung, dan saya senyum-senyum aja karena saya tahu Zaky telah masuk jebakan betmen pak Syarifudin, setelah beberapa detik Zaky bingung pak Syarifudin dan keluarganyanya mulai tertawa, dan ternyata firasat saya benar, ini adalah jebakan, Zaky degan bingung pun ikut tertawa “umpannya nelayan ya nasi uduk, emangnya nelayan mau makan cacing, kan yang ditanya bukan ikannya” dan semuanya tertawa lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.