Day 4 Hari terakhir di maitan

Day 4 Hari terakhir di maitan

Setelah sholat mandi sarapan dan menyiapkan barang bawaan, seperti biasa kami jalan ke homestay gatotkoco untuk diskusi sebelum jalan ke pasar, setelah kira-kira 30 menit diskusi, kami langsung sepedaan ke pasar, untuk eksplorasi pasar dan untuk mencari andong yang bisa ditelpon untuk perjalanan besok. saat sampai disana kami mengunci sepeda, dengan kunci yang diberikan oleh kakak-kakak Jaladwara 1 kelompok mendapat 2 kunci.

dipasar kami semua berpencar, karena kepasar ini memang dibuat untuk project pribadi, dipasar saya tidak mendapat terlalu banyak, data yang saya dapatkan hanya: disana sepertinya tidak ada penjual kedelai lokal, tapi saya menemukan hal lain yang menarik, saya menemukan tempe yang terbuat dari kacang ijo, saya berencana untuk minta gorengin ke tuan rumah.

Rumah ketela

habis dari pasar kami ke rumah ketela, disana Kami bertemu dengan Ibu Nida Sutomo & Bapak Aris Suwara Sutomo, pemilik ruma ketela, rumah ketela didirikan untuk mengembangkan kesadaran akan pangan lokal seperti umbi-umbian yang sangat melimpah di Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran akan bahayanya gluten, salah satu contohnya gluten bisa merangsang stress, kelebihan umbi-umbian yang lain adalah umbi-umbian bisa ditanam di kondisi iklim apapun, karena tumbuhnya dibawah tanah.

karena kurangnya kesadaran akan umbi-umbian di Indonesia, negara-negara lain secara sembunyi-sembunyi mengekspor umbi-umbi itu ke negara mereka untuk diproses dengan mesin yang lebih canggih untuk dijadikan diet food dan baby food, yang lalu akan dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi.

contoh “penjajahan” lain yang diberikan oleh pak Aris adalah, penjajahan dari televisi, yang terus mempromosikan produk seperti Qte1a, yang sebetulnya sama dengan crippin tradisional, hanya saja Qte1a ada di televisi, jadinya kebanyakan orang akan berpikir yang ada di tv itu lebih bagus daripada yang tidak mempunyai brand.

Eggroll

setelah mendengar penjelasan dari pak Aris kami pindah ke dapur eggroll saat itu saya tahu pasti akan ditawari eggroll jadi saya tanya-tanya dulu bahan-bahannya, melihat apakah ada titik kritis atau aman, dan dari analisa saya menurut saya ini halal jadi saya makan juga

Halal

DSC_0262
Waktu dikasih liat surat-surat rumah ketela SOURECE:JALADWARA

saat saya akan membeli eggroll saya melihat logo halam MUI, tapi hanya sticker yang ditempel ke kaca, jadi saya iseng nanya, “boleh liat sertifikat halalnya gak”, saya bilang ke kasir, lalu dia bilang, “sebentar saya ambilin” setelah itu agak lama tidak ada respon, saya sudah curiga logo halal itu cuma stiker, dan saya akan mendapat respon seperti, maaf dek gak ketemu sertifikatnya, tapi hasilnya membuat saya sedikit terkejut, ternyata saya beneran dikasih liat sertifikat halalnya, sebetulnya dari awal saya sudah tahu makanan itu halal, karena saya sudah lihat ke dapurnya dan bahan-bahannya semua halal.

DSC_0266
SOURECE:JALADWARA

Tahu

Tugas kami selanjutnya setelah dari rumah ketela adalah untuk wawancara industry tahu dan jetkolet, kakak-kakak fasilitator juga menyarankan untuk makan dulu, tapi karena kami merasa masih kenyang, jadi kami tidak berhenti dulu untuk makan, jadi kami langsung menuju industry tahu, karena bingung tempatnya dimana jadi kami beberapa kali nanya, sampai akhirnya, ketemu juga industry tahunya, yang beda dengan industry tahu yang saya pernah kunjungi sebelumnya industry tahu ini juga menjual tahu yang sudah digoreng terlebih dahulu.

Salah tempat -_-

setelah dari tahu kami mampir dulu ke homestay gatotkoco untuk menitipkan makanan yang kami beli, setelah itu saya dan zaky sholat, saat selesai sholat kami mendapat telpon dari kak kukuh

Kak Kukuh: Kalian dari mana aja

Ceca: dari industry tahu kak

Kak Kukuh: industry tahu dimana

Ceca: yang di dusun kretek

setelah itu kak Kukuh ketawa.

Ternyata kami salah dusun, memang di dekat situ ada 2 industry tahu, tapi sepertinya yang kami datangi itu yang jauhnya.

Jetkolet

setelah sholat kami jalan lagi untuk menuju industry jetkolet, saat sudah sampai, Zaky sedikit salah paham, kami mendapat sms dari kakak-kakak fasilitator untuk mengabari kalau kami sudah sampai ke tempat jetkolet, Zaky kira kami harus mengabari lalu menunggu kakak fasilitator datang, tapi menurut saya kami harusnya langsung masuk aja, jadi kami menunggu dulu lumayan lama, sampai akhirnya saya megajak Donna dan Zaky untuk masuk aja, jadi kami masuk dan mulai wawancara tidak lama kemudian kak kukuh datang.

saat disana saya dan Donna mewawancarai pemilik industri jetkolet sedangkan Zaky mewawancarai pegawai yang sedang menghaluskan singkong, disana ada 3 mesin 3 memakai listrik dan 1 memakai bensin sebagai bahan bakar, mesin yang memakai bahan bakar bensin dipakai untuk menghaluskan singkong, tapi sebelum singkong itu bisa dihaluskan, sinhkong harus dikukus dulu sampai jadi lembek, baru setelah itu bisa dihaluskan dan dibuat menajadi getuk (bentuknya seperti adonan).

IMG_20161215_140045
singkong yang dihaluskan menjadi getuk SOURCE;JALADWARA

Setelah dibentuk adonan itu dimasukkan kedalam freezer selama 8 jam, gunanya ditaruh di freezer dulu adalah supaya adonan itu jadi keras dan bisa di potong.

untuk mesin potong disana ada 2 dua-duanya menggunakan tenaga listrik, bedanya ada di pisaunya, ada pisau yang bergelombang untuk kripik singkong, ada juga yang mulus untuk memotong adonan jetkolet, setelah dipotong adonan itu digoreng lalu dibungkus, mesin listrik yang ketiga berbentuk seperti molen. mesin ini berguna untuk mencampur bubuk cabai, karena disana ada pilihan pedas atau original.

Main sepeda

setelah dari jetkolet kami pulang ke homestay gatotkoco untuk bercerita pengalaman kami, setelah ngobrol tentang pengalaman kami, kami disuruh untuk eksplor dusun maitan dan “make someone lees stranger”, jadi kami haru memngenal seseorang lebih dalam, seperti, dimana rumahnya, dimana sekolahnya, siapa namanya dan seterusnya, karena bingung mau ngapain aku main sepeda aja sendiri, sampai ketemu Fattah yang juga sedang main sepeda, jadi kami main sepeda bareng, karena memang jalanannya sangat enak untuk main sepeda, karena banyak turunan.

Candi mendut

setelah main sepeda malamnya kami menuju candi mendut untuk melihat para biksu yang sedang berdoa, tapi sayangnya di perjalanan ada lumayan banyak hambatan, seperti pedal sepeda Zaky yang lepas terus dan celana Yudhis yang robek.

saat kami sudah sampai ke candi mendut ternyata, para biksu sedang tidak berdoa, karena akan ada persiapan untuk acara, jadi kami hanya melihat-lihat saja.

Patung

saat kami melihat-lihat, ada patung yang sangat besar dan ada pelataran berlantaikan batu di depan patung itu, did itu juga ada batas suci, jadi kalau mau lebih dekat dengan patung itu kami harus buka sendal, jadi saya dan yang lain buka sendal dan melangkah lebih dekat ke patung itu,

Ternyata tempat itu untuk dipakai untuk meditasi menghadap patung, jadi pada saat yang lain meditasi hanya saya dan Kaysan yang tidak ikut.

Pulang dari candi

Setelah dari candi mendut kami ngobrol sebentar di homestay gatotkoco, setelah itu kami semua pulang ke homestay masing-masing, kecuali Yudhis dan Fattah yang sebelumnya sudah dikasih kunci oleh tuan rumah, yang katanya lagi mau pergi ke acara yang ada di masjid, karena kuncinya gak tahu kemana, jadi yudhis tidurnya di homestay gatotkoco.

Kecapean

karena habis sepedaan lumayan jauh saya jadi sangat kecapean waktu sampai di homestay, tapi masalahnya saya harus packing baju dulu sebelum tidur, jadi saya packing baju dan rencananya ingin merapikan hal lain juga, tapi kerena kecapean saya akhirnya memutuskan untuk packing sisanya besok

Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.