Perjuangan memotret MilkyWay ditengah kota

Saya mendapatkan foto ini pada saat Star Party di Sekolah Pembangunan Jaya. Star party ini adalah star party undangan, sekolah ini mengundang HAAJ untuk mengisi sebuah acara disana. Saya sudah beberapa kali ke sekolah ini, sekolah ini biasa megnundang HAAJ di acara Astronominya.

Biasanya saya tidak membawa kamera sama sekali, karena yaa sekolah ini masih ditangah kota, jadi langitnya tidak terlalu bagus, “bawa kamera juga cuma bikin berat aja” Pikir saya, tapi kali ini berbeda, kali ini saya iseng bawa kamera, perlengkapan kamera yang dibawa juga sangat minim, cuma body kamera dan lensa 50mm, saya bawa lensa 50mm karena itu lensa saya yang ukurannya paling kecil, jadi lensa dan kamera itu bisa masuk ke sebuah tas kecil, jadi enak dibawanya.

Kegiatan star party berjalan seperti biasa, pertama materi, lalu pengamatan malam dan workshop teleskop, setelah itu kita istirahat dan menuju ke acara terakhir, pengamatan malam bagian dua, kali ini pengamatan malam dilakukan pada saat menjelang subuh, benda yang di amati adalah Venus dan Saturnus.

Kebetulan saat mulai pengamatan lagi, saya bawa kamera, siapa tahu bisa motret, saat itu kebayang aja belum, bakal bisa motret MilkyWay disana, saat semua peserta sudah turun, saya mulai iseng-iseng motret, awalnya kamera cuma ditaruh di lantai dan di ganjel sendal buat mengarahkan.

Foto MilkyWay langsung dari kamera

Waah ternyata saat saya iseng-iseng motret ini ada tanda-tanda MilkyWay, saya tahu, kalau cuma satu foto gak bakal dapet MilkyWay nya, saya perlu memotret berkali-kali karna mau stacking, jadi tempat awal kamera saya yang cuma di lantai di ganjel pake sendal sudah tidak memadai.

Saya perlu motret menggunakan tripod, sayangnya saya tidak bawa tripod, awalnya saya kira yang lain bakal bawa tripod, ternyata gak ada yang bawa tripod.

Setelah mikir-mikir sebentar, saya melihat teleskop yang sedang tidak dipakai, di teleskop itu ada kepala tripod, jadi saya bisa menaruh kamera saya disana.

Mengarahkan kamera ke teleskop ke milky way cukup sulit, karena milky way tidak dapat terlihat dengan mata telanjang, harus di foto dengan kamera, jadi saya harus mengarahkan teleskop ini dengan melihat bintang sekitar, lalu memotret untuk mengecek framing.

Setelah mengarahkan kamera ke milky way, saya mulai memikirkan setting kamera, pertama memikirkan waktu exposure kamera, saya menggunakan rumus 500 ÷ Milimeter lensa ÷ Crop factor sensor kamera. Angka yang didapatkan adalah 6,25 detik, dibulatkan menjadi 6 detik, itulah yang menjadi setting exposure saya. saya menggunakan f/1.8 dan ISO 1250, saya menggunakan f/1.8 karena ingin punya ISO se rendah mungkin untuk meminimalisir noise.

Setelah semuanya sudah sudah ter-setting, saya mulai memotret, ketika memotret di langit dengan kondisi yang sangat penuh dengan polusi cahaya dan udara, kita memerlukan banyak foto untuk stacking, total foto yang saya ambil adalah 82 foto.

Setelah dirasa sudah cukup banyak foto, saya mulai mengambil foto kalibrasi, ada dua jenis foto kalibrasi yang saya ambil, Dark Frame dan Bias.

Dark frame diambil dengan setting kamera yang sama dengan saat memotret milky way di awal, tapi bedanya kali ini memotret dengan lensa ditutup.

memotret Bias juga sama-sama ditutup lensanya, tapi kali ini setting shutter speed kamera dibuat secepat mungkin. Guna mengambil Dark dan Bias frame ini adalah untuk me-reduksi noise.

Bagian memotret sudah selesai, waktunya pulang kerumah dan masuk ke bagian image processing, saya memutuskan untuk menggunakan software stacking bernama Sequator, saya menemukan software ini saat mencari-cari apakah ada software gratis lain selain DeepSkyStacker, software yang pertama kali saya gunakan. Ternyata ada!! dan banyak yang bilang software ini kerjanya jauh lebih cepat dari DeepSkyStacker.

Setelah saya coba, rasanya memang lebih enak software ini, proses stackingnya jauh lebih cepat dan mudah, memang sih software ini tidak mempunyai opsi sebanyak DeepSkyStacker, tapi untuk saat ini software ini sudah cukup untuk saya.

Total foto yang akan di stacking adalah 169 foto, 82 Light (Foto yang normal)  48 Dark dan 39 Bias, data dari semua 169 foto ini disatukan untuk membuat gambar yang lebih detail dan jelas. Dan juga me-reduksi noise.

Foto stacking pertama

inilah hasil dari 169 foto itu, saya cukup kagum, ternyata memang bisa, foto yang awalnya sangat terang dan milky way nya hampir gak keliatan, jadi foto yang cukup jelas, dan ini baru stacking pertama, masih banyak settingan yang bisa dimainkan untuk membuatnya terlihat lebih bagus.

Setelah banyak percobaan, mencoba setting ini itu, akhirnya saya mendapatkan foto yang saya cukup puas, setelah sudah puas dengan stacking di software ini, saya meneruskan image processing di Lightroom. 

Di Lightroom saya menaikkan keterangan foto, menambah kontras, memainkan warna sedikit, dan beberapa hal lain, dari Lightroom saya pindah software lagi, kali ini ke Photoshop, melihat-lihat kira-kira apa yang saya bisa lakukan untuk membuat gambar ini terlihat lebih bagus.

Setelah memainkan beberapa hal di Photoshop, saya menemukan fitur yang saya ingin gunakan, fitur itu adalah, Dodge, Burn dan Sponge, Dodge membuat lebih terang, Burn lebih gelap dan Sponge menurunkan saturasi, saya menggunakan Dodge untuk bagian MilkyWay untuk membuatnya lebih mencolok.

saya juga menggunakan Burn untuk area sekitar MilkyWay untuk membuat kontras. Tool sponge digunakan untuk menurunkan warna-warna yang tidak seharusnya ada, tapi muncul pada saat proses stacking.

Setelah itu saya akhirnya puas dengan hasil fotonya dan langsung saya upload ke Instagram.

metode memproses dan mengambil saya masih jauh dari sempurna, bahkan mungkin ada beberapa hal yang saya lakukan yang sebetulnya kurang benar, semua ini adalah bagian dari proses belajar saya, jadi mohon di maklumi jika ada metode atau penjelasan yang salah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.