Super Blue Blood Moon

Super Blue Blood Moon atau dalam bahasa Indonesianya Bulan Biru Darah adalah gabungan dari tiga fenomena  yaitu, Supermoon, Blue Moon dan Blood Moon,

• Supermoon atau bulan super terjadi ketika bulan sedang berada pada titik terdekatnya dengan bumi, hal ini membuat bulan jadi terlihat lebih besar dan terang

• Blue Moon atau bulan biru adalah peristiwa ketika ada dua bulan purnama dalam satu bulan masehi, jadi ketika blue moon bulan itu tidak berubah warna sama sekali

• Blood Moon atau bulan darah adalah sebutan lain dari gerhana bulan total, karena pada puncaknya, bulan akan berwarna merah karena tertutup bayangan bumi.

 

Saat mendengar saya dipercaya untuk membantu jaga teleskop pada acara gerhana ini, saya sangat senang, karena saya sudah dipercaya untuk bertanggungjawab, kalau menjaga teleskopnya tidak terlalu susah tapi yang susah adalah membagi fokus ke membuat logbook, menjawab pertanyaan peserta, mengarahkan teleskop kalau kesenggol dan motret.

Gak bisa tidur

Pada malamnya saya agak susah tidur, memikirkan semua pertanyaan yang kemungkinan akan ditanya peserta dan jawabannya, setelah lumayan banyak baca-baca lagi tentang gerhana ini, saya akhirnya tidur.

Pagiii

Saya bangun pagi-pagi dan melakukan rutinitas pagi saya, setelah itu saya menyempatkan diri dulu untuk jalan sebentar ketempat teman-teman oase sedang kumpul, karena hari itu kebetulan adalah hari ulang tahun oase, setelah datang dan cuma ngobrol 15 menit, saya pun pulang dan langsung jalan naik ojek online.

Ngapain ya

Tadinya saya mau jalan kesana jam satu siang, tapi karena mendengar di grup Wa katanya dibutuhkan tenaga untuk merakit dan memindahkan teleskop, saya jadi jalan jam 10, tapi pada saat saya sampai, ternyata semua teleskop sudah dipindahkan, dan ternyata teleskop semuanya dirakit oleh masing-masing penjaganya, jadi akhirnya saya gak ngapa-ngapain sampai jam 2:30.

Dipinjemin Lensa 😀

Kami mulai dengan brifieng sebentar, setelah itu kami sholat Ashar, lalu mulai merakit teleskop, saya ada di teleskop 3 bersama kak Ronis, saat melihat saya menggunakan lensa 18-2oomm, kak Ronis meminjamkan saya lensanya (70-300mm), (simply mm (milimeter) yang lebih tinggi artinya zoom yang lebih tinggi).

Foto-foto

Saat semuanya sudah selesai dirakit, perserta mulai berdatangan, karena bulan belum keluar, akhirnya teleskop jadi properti foto dan para peserta foto dengan gaya yang beraneka ragam, saya harus memperingatkan setiap peserta satu-satu, untuk tidak menyentuh teleskop, karena takutnya bisa rusak kalau digerakkan dengan tidak benar.

Bulan Terbit

Ketika bulan mulai terlihat barisan diatur, dan peserta mulai melihat satu-persatu, saya sadar ternyata multitasking saat ini sangat susah, ada tiga hal yang saya perlu lakukan,

  • Pertama saya harus menjaga teleskop, karena selalu saja ada peserta yang tidak mendengarkan, saat orang didepannya sudah dibilangin untuk jangan menyentuh teleskop, mereka tetap saja menyentuhnya, yaaaa mungkin mereka terlalu semangat sampai lupa, sebetulnya mengembalikan teleskop setelah tersenggol sedikit tidak terlalu susah, yang masalah adalah kadang peserta yang sedang melihat itu gak bilang apa-apa ketika hilang, ditanya juga diem aja, bilangnya setelah satu menit, baru dia bilang, kok gak ada ya mas, dalam pikiran saya “dari tadi ditanya ada atau gak, gak jawab, ngomongnya baru sekarang” dan ketika disuruh gantian dia protes, ntar dulu dong mas saya kan baru liat, tapi ya itu hanya beberapa peserta saja, kebanyakan peserta mendengarkan semua larangannya.

 

  • Bikin Logbook, hal ini menurut saya hampir jadi yang tersulit, walaupun semuanya hampir sama sulitnya, karena saya harus menulis tangan ke sebuah kertas, karena menurut saya hal itu hampir tidak mungkin, saya jadi memanfaatkan Instagram story sebagai logbook, ketika ada sesuatu yang terjadi saya langsung bikin story berisi video hal itu, sedikit deskripsi dan waktu saat itu, dan hasilnya instagram story saya jadi titik-titik seperti seorang selebgram, tapi pada akhirnya cara itu berhasil

 

  • Memotret, karena salah satu target utama saya adalah mendapatkan foto SuperBlueBloodMoon ini, saya jadi harus membagi fokus juga ke memotret, yang pada akhirnya saya temukan tidak mungkin, jadinya saya dan kak Ronis yang menggunakan teleskop bermotor untuk memotret, bergantian menjaga teleskop, ketika kak Ronis selesai setting kameranya, saya gantian memotret, begitulah sampai kak Rezky datang, karena ada kak Rezky yang menjaga teleskop, saya jadi bisa fokus memotret, dibilang fokus juga tidak bisa, karena setiap saya mengecek hasil foto saya, ada saja peserta yang mau foto bulan yang ada di screen saya, awalnya hanya satu dua orang yang motret, tapi lama-lama sampai ada barisan antrian untuk memotret foto bulan yang ada di lcd saya.

Pada jam 18:35 peserta mulai melihat satu persatu

jam 19:20 bulan mulai tertutup awan, dengan harapan palsu awan terbuka setiap beberapa menit, untuk alternatifnya, teleskop diarahkan ke sirius

jam 20:00 awannya mulai makin rata, untuk alternatifnya kak Ronis berdiskusi seputar ilmu Astronomi

20:30 awan terbuka dan teleskop kembali diarahkan ke bulan

pada jam 21:48 suasana mulai sepi, hampir semua peserta sudah meneropong bulan

22:00 saya mulai meng-convert insta story saya menjadi logbook yang ditulis tangan

23:00 kami mulai merapihkan teleskop dan melakukan cek-list akhir

dan akhirnya pada sekitar tengah malam, semua teleskop sudah dibawa kedalam, dan siap dinaikkan ke ruang teleskop besok harinya, dan akhirnya saya bisa pulang.

Pulangnya saya dijemput papa, bunda, Syabil dan Syakira. Jam sudah menunjukan pukul 00.15 wib, kami memutuskan mampir dulu makan ke restoran padang Garuda di jalan Sabang. Perut kenyang dan bahagia.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.